«
»

Bahasa Indonesia, Sick Society, contemplation, personal experience, reality check

Budaya copycat atau latah massal

11.04.08 | 17 Comments

Gue baru ngeh bahwa makin kesini, makin banyak perempuan Indonesia yang cantik-cantik, itu juga gara2 browsing facebook dan lihat foto2nya temen2 gue, dan temen2 mereka. Banyaaaaak sekali yang cantik, atau paling tidak, punya potensi menjadi sangat cantik. Sayangnya, cantik2 tapi gak pede dan gak punya identitas.

Kenapa gue bisa bilang begitu? Soalnya ternyata dari dulu sampai sekarang, orang kita seperti takut punya identitas. Paling tidak yang hidup di kota2 besar dan terekspos budaya luar baik dari televisi maupun internet.

Misalnya, sekarang acara TV Amerika yang sedang digemari adalah drama ABG Gossip Girl. Jangan salah, gue juga penggemar seri ini, ringan, menghibur, tidak perlu mikir nontonnya, dan yang paling penting, menjual mimpi, seperti banyak sekali sinetron2 dalam negeri. Kalo gue masih berumur 16 tahun, mungkin gue akan menjadi fans berat acara ini dan bahkan hunting baju2 yang mirip dengan itu, memakai mode yang semirip mungkin dengan karakter2 di seri itu dan lainnya.

Tapi itu kalau gue masih 16 tahun.

Yang menarik, gue lihat banyak juga wanita2 dewasa Indonesia yang jelas sekali demam acara itu hingga berdandan dari ujung rambut (dengan bandana/bando a la Blair Waldorf) hingga ujung kaki semirip mungkin dengan karakter2 di acara itu.

Dari dulu, itu adalah suatu hal yang bikin gue suka geleng2 kepala, karena di Jakarta misalnya, ketika yang lagi ngetren adalah A, SEMUA orang akan terkena latah massal dan memakai A, beneran maupun palsu. Pokoknya ke mall, pesta kawinan, club, kampus, pasar manapun, manusia2 berbalut A akan bertebaran dimana2 kalau yang lagi ngetren adalah A.

Dari dulu gue gak pernah begitu ngikutin mode, karena gak mau jadi korban mode a.k.a maksa memakai sesuatu yang sedang trend padahal sama sekali gak cocok di gue. Alhasil gue menjadi outcast karena tidak pernah sama dengan yang lain, as if menjadi seragam dengan orang lainnya itu adalah tujuan utama dari hidup. Not at all, at least not for me.

Tapi walaupun menjadi outcast, lama2 hal itu menjadi suatu hal yang gak mengganggu untuk gue dan sama sekali bukan suatu masalah, karena akhirnya gue jadi mempunyai identitas diri, gaya pribadi, dan seringkali orang dapat mengenali gue dengan mudah dan seringkali orang2 juga sulit melupakan gue karena gue gak membaur dengan yang lain. Dan intinya memang budaya copycat atau latah massal ini bukanlah suatu budaya yang cocok dengan pribadi gue yang keras, explosif, exhibisionis dan cenderung ingin menjadi pelopor dalam banyak hal.

Kadang gue bingung, kenapa sedemikian banyak manusia kota di Indonesia seakan terburu2 dan terdesak agar menjadi salah satu sosok diantara sedemikian sosok serupa hingga mereka malah tidak terkenali lagi? Mengapa sedemikian banyak dari mereka itu tidak berani tampil dengan identitas masing2 dan bangga atas perbedaan mereka dengan yang lain?

Beberapa teman yang sepaham dengan gue bilang bahwa itu khas mentalitas bangsa terjajah. Mungkin itu benar, tapi gue masih agak sangsi, masak iya udah sekian puluh tahun yang lalu itu terjadi mentalnya masih terbawa2 sampai sekarang? Tapi mungkin juga begitu, buktinya bapak2 pejabat Indonesia yang hebat2 dan kaya2 karena korupsi itu bisa kejam kepada sesama pribumi tapi giliran ada orang bule dateng, sepertinya semua langsung tergopoh2 seperti didatangi utusan Tuhan.

Yah, itulah si bule, the great white hope bagi orang2 Asia. Dan ternyata kalau dalam hal ini, bukan hanya bangsa kita yang terkena penyakit ini tetapi juga hampir semua bangsa2 asia selatan dan asia tenggara. Sangat menyedihkan.

Tetapi hari ini gue gak mau ngebahas yang terlalu dalam mengenai itu, apalagi kalau sampai disambung2 ke fakta bahwa budaya copycat ini bukan hanya dalam mode tapi juga hingga identitas nasional, kemasyarakatan dan negara yang terkena imbasnya, yaitu impor budaya lain karena tidak pede dengan budaya dan identitas sendiri dan seperti latah massal hingga budaya negara lain (baca: timur tengah) menjadi suatu epidemic, karena gue cuma mau ngebahas mode aja.

Terus terang, gue masih terpana terpesona sembari geleng2 melihat sebegitu banyaknya cloningan serena vander woodsen dan blair waldorf di Jakarta. Setidaknya dari yang terlihat di foto2 di facebook. Suatu fenomena yang sangat menarik dan sempat menjadi pikiran bagi gue selama, hmm.. mungkin 15 menit.

Ok, 15 menit sudah habis. Topik berikutnya, please!

Related Posts with Thumbnails
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Reddit
  • Google Bookmarks
  • StumbleUpon
  • Technorati

17 Comments

have your say

Add your comment below, or trackback from your own site. Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic.

Well, not really, you can say whatever hell you want here, but NO SPAM, or I will smite you!

You can use these tags;
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:

:

CommentLuv Enabled

«
»