Gue baru ngeh bahwa makin kesini, makin banyak perempuan Indonesia yang cantik-cantik, itu juga gara2 browsing facebook dan lihat foto2nya temen2 gue, dan temen2 mereka. Banyaaaaak sekali yang cantik, atau paling tidak, punya potensi menjadi sangat cantik. Sayangnya, cantik2 tapi gak pede dan gak punya identitas.
Kenapa gue bisa bilang begitu? Soalnya ternyata dari dulu sampai sekarang, orang kita seperti takut punya identitas. Paling tidak yang hidup di kota2 besar dan terekspos budaya luar baik dari televisi maupun internet.
Misalnya, sekarang acara TV Amerika yang sedang digemari adalah drama ABG Gossip Girl. Jangan salah, gue juga penggemar seri ini, ringan, menghibur, tidak perlu mikir nontonnya, dan yang paling penting, menjual mimpi, seperti banyak sekali sinetron2 dalam negeri. Kalo gue masih berumur 16 tahun, mungkin gue akan menjadi fans berat acara ini dan bahkan hunting baju2 yang mirip dengan itu, memakai mode yang semirip mungkin dengan karakter2 di seri itu dan lainnya.
Tapi itu kalau gue masih 16 tahun.
Yang menarik, gue lihat banyak juga wanita2 dewasa Indonesia yang jelas sekali demam acara itu hingga berdandan dari ujung rambut (dengan bandana/bando a la Blair Waldorf) hingga ujung kaki semirip mungkin dengan karakter2 di acara itu.
Dari dulu, itu adalah suatu hal yang bikin gue suka geleng2 kepala, karena di Jakarta misalnya, ketika yang lagi ngetren adalah A, SEMUA orang akan terkena latah massal dan memakai A, beneran maupun palsu. Pokoknya ke mall, pesta kawinan, club, kampus, pasar manapun, manusia2 berbalut A akan bertebaran dimana2 kalau yang lagi ngetren adalah A.
Dari dulu gue gak pernah begitu ngikutin mode, karena gak mau jadi korban mode a.k.a maksa memakai sesuatu yang sedang trend padahal sama sekali gak cocok di gue. Alhasil gue menjadi outcast karena tidak pernah sama dengan yang lain, as if menjadi seragam dengan orang lainnya itu adalah tujuan utama dari hidup. Not at all, at least not for me.
Tapi walaupun menjadi outcast, lama2 hal itu menjadi suatu hal yang gak mengganggu untuk gue dan sama sekali bukan suatu masalah, karena akhirnya gue jadi mempunyai identitas diri, gaya pribadi, dan seringkali orang dapat mengenali gue dengan mudah dan seringkali orang2 juga sulit melupakan gue karena gue gak membaur dengan yang lain. Dan intinya memang budaya copycat atau latah massal ini bukanlah suatu budaya yang cocok dengan pribadi gue yang keras, explosif, exhibisionis dan cenderung ingin menjadi pelopor dalam banyak hal.
Kadang gue bingung, kenapa sedemikian banyak manusia kota di Indonesia seakan terburu2 dan terdesak agar menjadi salah satu sosok diantara sedemikian sosok serupa hingga mereka malah tidak terkenali lagi? Mengapa sedemikian banyak dari mereka itu tidak berani tampil dengan identitas masing2 dan bangga atas perbedaan mereka dengan yang lain?
Beberapa teman yang sepaham dengan gue bilang bahwa itu khas mentalitas bangsa terjajah. Mungkin itu benar, tapi gue masih agak sangsi, masak iya udah sekian puluh tahun yang lalu itu terjadi mentalnya masih terbawa2 sampai sekarang? Tapi mungkin juga begitu, buktinya bapak2 pejabat Indonesia yang hebat2 dan kaya2 karena korupsi itu bisa kejam kepada sesama pribumi tapi giliran ada orang bule dateng, sepertinya semua langsung tergopoh2 seperti didatangi utusan Tuhan.
Yah, itulah si bule, the great white hope bagi orang2 Asia. Dan ternyata kalau dalam hal ini, bukan hanya bangsa kita yang terkena penyakit ini tetapi juga hampir semua bangsa2 asia selatan dan asia tenggara. Sangat menyedihkan.
Tetapi hari ini gue gak mau ngebahas yang terlalu dalam mengenai itu, apalagi kalau sampai disambung2 ke fakta bahwa budaya copycat ini bukan hanya dalam mode tapi juga hingga identitas nasional, kemasyarakatan dan negara yang terkena imbasnya, yaitu impor budaya lain karena tidak pede dengan budaya dan identitas sendiri dan seperti latah massal hingga budaya negara lain (baca: timur tengah) menjadi suatu epidemic, karena gue cuma mau ngebahas mode aja.
Terus terang, gue masih terpana terpesona sembari geleng2 melihat sebegitu banyaknya cloningan serena vander woodsen dan blair waldorf di Jakarta. Setidaknya dari yang terlihat di foto2 di facebook. Suatu fenomena yang sangat menarik dan sempat menjadi pikiran bagi gue selama, hmm.. mungkin 15 menit.
Ok, 15 menit sudah habis. Topik berikutnya, please!




Waktu gw balik dari Jerman sekitar tahun 2003, di Indonesia lagi heboh demam F4 (group penyanyi ga jelas dari Taiwan). Gw pulang pas lagi semua orang termasuk pembokat2 lagi tergila-gila ma F4.. secara gw ga tau sama sekali mereka itu siapa – iya lah, ngetopnya ga sampai ke Eropa
Nahh tu cowok2 pada niruin gaya rambut para personel F4 itu, yang lurus rada gondrong, jatuh2 di muka dan belakang leher gitu. Gw sampe terheran-heran, kok banyak banget cowok yang gaya rambutnya kayak kucing kecebur kali gini sih? Baru ngeh setelah sepupu gw nunjukin foto grup F4, tuh niru itu tuh…. ya ampyuuuunnn
kalo suatu hari kelak ada sinetron ala timur tengah di mana cewe2nya pake jilbab yang modis, trendy, dll mgkn gue bakal ikutan demam korban mode apa ya? hahahaha
ya bener mending topik berikutnya juga…
hehehhehe….yup, been wonderng about that too since ages…bukan dari gaya dandanan aja lagi yang sama sampe cara bicara n cara bepikir cara ngomong pun, banyak yang sama tidak bisa dibeda2in satu samayang lain. aneh, its like they are afraid to be different or have an original thought…
Hmmm… kalo menurut gue Rim, mereka malah sengaja dandan ala Blair dan Serena gitu supaya tampil beda, dan nggak nyadar bahwa a million other girls will do the same, jadi udah susah payah dandan supaya mau tampil beda, eh malah jadinya tampak sama semua. LOL.
Selain takut menjadi dirinya sendiri, lo tau nggak kalo di Indo ini banyak orang yang ‘lost’ alias ngga tahu diri mereka itu siapa. Jadinya yang mereka bisa lakukan adalah mengikuti gaya dan dandanan orang laen yang mereka pikir bagus.
@Mia:
Jaman pas F4 lagi heboh2nya banyak bgt cewek2 yang dandan ala San Chaiiiiii, dan di jaman itu pula rambut yang di Rebonding lagi ngetrend2-nya, sampe2 yang tipe rambut meranggas pun ‘maksa’ di bonding, yang ada pas akarnya numbuh malah jadi keliatan aneh… -geleng2-
therry´s last blog post..What The Porn Bill Does…
padahal kalo dipikir2 apa serunya seragam sama yang lain, ya? entah bagaimana jalan pikiran mereka itu. kalo saya, sih, lebih seneng menentang arus; jadi yang paling lain dan mencolok – di mall, misalnya. dan nikmatilah saat2 ketika ekor mata orang2 mengikuti kemana arah langkah kaki kita
jadi pusat perhatian itu memang menyenangkan!
Gitu deh. Kalo aku pulang Surabaya dan pergi ke mall, SEMUA orang dandanannya sama, make upnya sama, cara jalannya sama…. aku sempat mikir fenomenanya lucu juga. Tapi setelah itu aku ngerasa kasihan sama orang2 kita… ga ada yang mau tampil beda.
Carla´s last blog post..H*******E
@mia: Ih.. gue juga bilangnya gitu, rambut kucing kecebut, yg jigrik2 gak karuan gitu kan? lol
@yonna: yah yon, kalo jilbab mah kan sama aja mau model gimana juga, jadi gak masuk dalam kategori korban
mode kali ya?
@meutia: mental terjajah itu lahh..
@therry: Yah they, kali lo bener, tetep aja pathetic tpnya.. lol
@sitampandarimipaselatan: Nah itu juga yg gw pikir. Kan lebih enak kalo punya gaya sendiri, khas gitu loh..
@Carla: hehehhe.. biar ‘ngetrend’ doonnnggg!!
Ini… kalau tidak pakai bahasa prokem, sepertinya lebih nyaman dibaca, deh
isnese´s last blog post..Pasipatan Cai (Sifat-Sifat Air)
@isnese: Emang pake bahasa prokem? kayanya enggak deh, lagian gue gak bisa bahasa prokem.. :p
disini juga banyak cewek2 jilbab kormod, contohnya kalo lagi booming sinetron di mana pemeran utamanya pake jilbab model terbaru maka langsung disebut jilbab Marshanda, Rianti, dll. trus belom lagi model pakaian betumpuk/berlapis kaya di dalem pake kaos lengan panjang tapi di luarnya ditambahin tank top, atau pake baju yang lengannya setengah, dll.
kayanya mode cukup banyak menelan korban, dari kalangan apa aja hahahaha
Mmm, ga cuman di indoneisa,
hehe.
kebanyakan negara asia seperti itu.
sekedar share aja,
dulu gue pernah pergi ke toko elektronik langanan gue. suatu saat gue terkaget2 kasirnya yang notabenenya orang daerah indonesia timur(rambut keriting)>bentuknya jadi aneh lucu
Mau negur stylenya ga cocok ga enak, jadi ya biarin aja hehe.
Hihihi, gw ga latah lho, abis nonton Gossip Girl emang gw penasaran pengen coba2 pake bando kuning gtu. Tapi setelah diliat2 kok gw ga cocok yah hahaha, akhirnya ga pake2 lagi lhooo…
Devi Girsang´s last blog post..Tell Me
@yonna: Yon, kormod sih siapa aja, gak ngefek jilbab apa enggak.. namanya juga orang indonesiaaaa. lol
@tito:Emang, negara2 terjajah lah..
@Devi Girsang: Bagus lah kalo sadar ga cocok dan brenti.. yg bikin ngakak yg maksain… udah gak cocok keukeuh.. hehehehe
Gue juga gitu kok, walopun lg trend dan gw pengen bgt make tp cek dulu.. kalo gw end looking like a prostitute atau kaya badut, ya gak laaahhh lolol
kenapa dulu jaman pilem Oshin mewabah TVRI, model potongan rambut suaminya Oshin yg belah tengah malah diketawain org.
Tapi setelah sekitar 10 thn kemudian…
malah belah tengah mewabah tanpa ada yg ngetawain, padahal pilem oshin udah ga jaman….
Rim… loe begaya kaya pilem dinasty aja dunk…
Hahahahaha….
Iya lah, mesti nyadar donk, jgn sampe kena snap shot trus dikatain korban mode hahahaha….
Devi Girsang´s last blog post..HandbagHeaven.com: 20% Off Any Purchase
[...] khawatir kalau-kalau desain kaosku itu modelnya sudah nggak aptudet lagi. Aku ini bukanlah seorang korban mode. Dan tentu saja perkara macam gituan berimplikasi pada kegagapanku untuk mengikuti perkembangan [...]
gw juga paling sebel tuh klo ngeliat orang kok pada seragam semua gayanya. monoton… mbok ya jadilah diri sendiri, biar jelek yang penting milik sendiri… (kok kayak stiker angkot yak? hehehe…)
caroline´s last blog post..Blessing…