«
»

Bahasa Indonesia, personal experience, sentimental production

Kenangan saya bersama Mas Andi

08.04.08 | 18 Comments

Saya pernah punya pacar yang namanya Andi*. Dia adalah anak walikota di satu kota di Jawa Timur yang kaya raya, yang juga merupakan keluarga (yang katanya) ningrat. Pada waktu kita pacaran itu, saya masih tinggal di Balikpapan, berumur 18 tahun, dan Andi waktu itu umurnya 26 tahun.

Seperti yang mungkin anda telah ketahui, keluarga ningrat jowo ini kan mempunya seperangkat adat istiadat dan norma kesopanan yang berbeda dengan yang lainnya. Walaupun ayah saya juga (katanya) keturunan bangsawan Aceh, begitu juga Ibu yang masih ada darah kraton Jogjanya, keluarga kami tidak memberlakukan sopan santun feodal yang berlebihan. Bahkan perangkat norma dan kesopanan kami lebih dekat ke norma barat**.

Andi ini, pada waktu awal kita berjanjian untuk berpacaran, langsung mengultimatum saya untuk memanggil dia mas, dan dia memanggil saya dengan sebutan adik. Saya waktu itu tidak masalah dengan panggilan, karena namanya juga baru awal-awal pacaran, malahan itu romantis.

Setelah berjalan beberapa minggu rupanya Mas Andi ini banyak sekali mau dan aturannya. Dia bilang, agar saya nanti diterima oleh orang tua dan keluarganya dengan baik (yang membuat saya agak bingung, karena waktu itu saya masih perawan bau kencur yang boro-boro mikir kawin, mikir ketemu keluarga pacar saja tidak pernah) saya harus merubah cara bicara dengan dia, cara jalan dengan dia, cara duduk di samping dia, cara makan, dan lain sebagainya.

Mas Andi waktu itu sudah bekerja pada suatu perusahaan air charter milik Tommy Soeharto, sebagai co-pilot. Dia juga merupakan lulusan sebuah sekolah penerbangan di AS. Berhubung saya waktu itu masih muda dan bego, punya pacar pilot rasanya keren sekali, apalagi lulusan AS. Alhasil, apa yang mas Andi minta, saya luluskan (Ingat, saya waktu itu masih SMA kelas tiga, jadi begonya masih dipelihara)

Saya ingat sekali jika berjalan di mal bersama dia, saya harus berjalan sedikit di belakang dia. Apabila berbicara dengan dia harus sangat sopan dan agak menunduk. Begitu juga kalau berbicara dengan orang lain atau teman-teman di saat dia ada, kata-kata seperti ‘elo’ dan ‘gue’ yang sangat biasa di kalangan anak muda, terutama yang dari Jakarta seperti saya, adalah tabu di depan dia.

Sebulan berjalan, saya masih betah pacaran dengan dia. Rupanya titel ‘co-pilot’ untuk seorang remaja berusia 18 tahun itu sangat menghipnotis.

Bulan kedua, saya sudah mulai gerah, tapi titel itu masih ada kekuatan hipnotisnya. Plus di antara teman-teman, saya menjadi sasaran iri mereka. Sering sekali saya dengar, “duh, beruntung banget ya si Rima? Pacarnya pilot loh!! Anak walikota lagi!” Suatu hal yang “shallow” dan “superficial” namun bagi sebagian orang (dan saya pada umur itu) merupakan suatu hal yang lebih nikmat daripada orgasme.

Di bulan ketiga, disaat kedua orang tua saya sedang ke Jakarta untuk urusan keluarga, saya memutuskan untuk melangkah ke jenjang berikutnya dalam hubungan kami. Bukan, bukan sex, tapi saya yang telah dia plonco dan drill selama tiga bulan dan dipersiapkan untuk menjadi calon istri, akhirnya sudah mulai mempunyai image itu dalam otak. Saya, seorang calon istri pilot yang anak walikota ningrat.

Suatu malam, saya mengundang Mas Andi ke rumah untuk makan malam, dengan memakan makanan yang saya akuin sebagai masakan saya sendiri padahal itu jelas adalah masakan pembantu.

Dia datang jam 7 tepat.

“Mas, silahkan duduk. Mau minum apa?”

Aku mau minum teh hangat. Gulanya sedikit saja”

Saya bergegas mengambilkan minumnya dan kembali serta menaruhnya di atas meja tamu. Saya nyalakan TV dan kita menonton TV sambil ngobrol. Tak lama setelah itu saya bertanya,

“Mas, mau makan jam berapa? Makanan sih sudah siap, kalau mau bisa disajikan sekarang”

Sambil menyeruput tehnya dia mengatakan, “Dik, gulanya kebanyakan, aku tidak bisa minum ini. Kamu gimana sih? Coba ambilkan lagi teh, dan gulanya dipisah saja, biar aku sendiri yang menggula-i”

Sambil agak malu, saya kembali ke dapur dan memarahi pembantu yang membuat teh itu. Setelah saya kembali membawa teh barunya, dia meminta agar makan disajikan.

Sebagai calon istri yang baik, saya harus dapat memperlihatkan kepiawaian menyajikan makanan. Maka pembantu saya suruh untuk tetap di rumah belakang tempat mereka tinggal, sementara saya yang bolak-balik menyajikan makanan dari dapur ke ruang makan. Rumah kami di Balikpapan itu sangatlah besar, model rumah belanda jaman dulu, jadi, dari dapur ke ruang makan itu jalannya cukup jauh.

Setelah semuanya tersajikan, saya memanggil dia untuk makan bersama. Dia duduk di kepala meja, sementara saya duduk di sampingnya. Selayaknya suami istri benaran. Saya, sang calon istri yang baik, menyendoki nasi ke atas piringnya, menanyakan lauk apa yang dia inginkan, berapa banyak, sampai dia terlihat puas.

Di saat itu, saya sudah mulai sebal, tapi masih tetap menjalankan semua dengan baik.

Lagi-lagi, sebagai calon istri yang baik, seperti yang diajarkan olehnya, dia harus memulai makan terlebih dahulu. Setelah dia mulai makan dan terlihat puas, tidak ada lagi yang diminta, baru saya juga boleh mulai mempersiapkan makan untuk diri saya sendiri dan menyantap makanan saya.

Sebelum makan, dia berkata, “Dik, aku tidak mau makan pakai sendok garpu, aku ingin makan pakai tangan saja. Mana mangkuk kobokannya?

Saya langsung terbirit birit ke dapur untuk mengambil mangkuk kobokan beserta serbet makan.

Pada suapan pertama, dia mengatakan, Dik, kamu tidak buat sambal untuk ikan ini?”

Saya pun menjawab, “Tidak mas, aku lupa”

Lain kali, kalau masak ikan bakar seperti ini, jangan lupa sambalnya,” jawabnya, dengan sedikit menggerutu.

Saya pun terdiam dan memulai untuk menyantap makanan yang sudah saya siapkan di piring saya sendiri.

Dik, airnya kok tidak dingin? Aku mau air dingin!” pintanya.

Baru dua suap yang saya kunyah, mendengar itu hampir tersedak namun saya bangun dari tempat duduk dan mengambilkan segelas air dingin.

Nah, begitu dong, panas-panas begini kan pastinya aku mau minum air dingin,” katanya (padahal tadi dia minta teh hangat, maka saya juga mengambilkan airnya, air hangat)

Di saat ini sebetulnya saya sudah sangat fed-up dan segala keinginan saya menjadi istri seorang pilot ningrat anak walikota kaya itu sudah pupus. Bahkan saya ingin sekali rasanya melempar piring ke arah dia dan menyuruh dia angkat kaki dari rumah. Tapi saya masih mencoba untuk berkepala dingin dan mendiamkan saja dia.

Tiba-tiba dia menggerutu lagi, “Dik, nasinya kok lembek sekali sih? Lain kali kamu kalau masak nasi jangan selembek ini, dong. Ini seperti bubur saja”

Saya pun mendengar itu menjadi semakin naik darah. Air mata sudah hampir berlinangan, karena itulah kejelekan saya, bila emosi, pasti menangis. Tapi bukan menangis sedih, menangis marah yang biasanya diikuti dengan teriakan maut.

Tidak lama sesudah itu, dia berkomentar lagi, “Dik, ikannya sepertinya kurang kering, ini agak basah dan melenyek gitu, jangan jangan belum benar-benar matang lagi”

Saya pun tersedak, lalu meledak.

“Ikan kurang kering???? TIUP ‘NDIRI AMPE KERING!!!!!!!! Dasar cowo kurang ajar!!!! Bawelnya gak ketulungan! Cowo apa cewe sih lo? dikit-dikit komplen, dikit-dikit ngomel, kurang ini, kurang itu, BANGKE! Udah plonco gue tiga bulan gak puas-puas lo??? Udah! Gue udah gak kuat! Lo mendingan cuci tangan di kobokan terus pulang sana!! Gue eneg dan gue minta putus!” Sambil saya banting sendok di atas meja, dan teriak di intercom untuk memanggil satpam agar ke dalam dan membuka pagar supaya si Andi bisa langsung pulang. Lalu saya buru-buru masuk ke sayap rumah utama untuk ke kamar saya.

Beberapa bulan setelah kejadian itu, dimana saya tidak pernah lagi bertemu dengan dia, saya dengar dari salah seorang teman dekat saya yang juga seorang pilot senior koleganya. Katanya, setelah putus dengan saya, Mas Andi menghamili pacar barunya, seorang gadis lokal yang reputasinya sangat ‘nakal’. Gadis itu terpaksa dia nikahi, karena dipaksa keluarganya. Saya hanya tertawa saja mendengarnya sembari mengucap syukur, bukan saya yang memiliki nasib jadi ‘keset’ dan hidup bersama Mas Andi, seningrat dan sekaya apapun dia.

* Bukan nama sebenarnya. Nama sebenarnya adalah Bangke atau Ani, tergantung jam dan hari apa.

** Norma barat yang seperti orang Indonesia pahami selama ini adalah suatu perspektif stereotip yang salah. Barat yang kami jalani adalah kejujuran berbicara, memandang mata lawan bicara, mendengar opini orang lain, menghormati opini orang lain, toleran dan tidak judgmental, hormat dan sayang ke orang tua, berpikiran terbuka dan logis, memelihara lingkungan sekitar, menghormati sesama terlepas dari status sosial atau ekonomi dsb. Walaupun sulit untuk dijalani dengan sempurna, tapi kami dididik untuk dapat menjalaninya sebaik mungkin.

Related Posts with Thumbnails
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Reddit
  • Google Bookmarks
  • StumbleUpon
  • Technorati

18 Comments

have your say

Add your comment below, or trackback from your own site. Subscribe to these comments.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic.

Well, not really, you can say whatever hell you want here, but NO SPAM, or I will smite you!

You can use these tags;
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:

:

CommentLuv Enabled

«
»